Amerika Serikat membuka kemungkinan memasok bahan bakar nuklir ke Iran dari luar negeri dengan syarat Teheran menghentikan aktivitas pengayaan uranium dan menyelesaikan persoalan terkait program nuklirnya. Tawaran tersebut disampaikan Menteri Energi AS Chris Wright dalam wawancara dengan Bloomberg.
Wright mengatakan pasokan bahan bakar dari luar Iran dapat menjadi bagian dari kesepakatan untuk menyelesaikan perselisihan mengenai program nuklir Teheran. Menurut dia, penyelesaian persoalan tersebut dapat membuka peluang bagi Iran untuk kembali terintegrasi dengan komunitas internasional serta memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakatnya.
Iran selama ini membantah memiliki tujuan mengembangkan senjata nuklir. Teheran menyatakan program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil, termasuk kebutuhan energi, penelitian, dan penggunaan medis.
Tawaran Washington muncul ketika hubungan kedua negara masih berada dalam ketegangan tinggi. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mempertahankan tekanan terhadap program nuklir Iran, termasuk membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap fasilitas yang dinilai berkaitan dengan kemampuan nuklir Teheran. Pada saat yang sama, pemerintah AS masih menyatakan adanya ruang bagi penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian Washington adalah kompleks bawah tanah Pickaxe Mountain di dekat fasilitas nuklir Natanz. Analisis citra satelit yang diterbitkan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 9 September menunjukkan peningkatan aktivitas konstruksi di lokasi tersebut sepanjang 2026, termasuk penguatan akses menuju kompleks, pengerasan area pintu masuk, serta peningkatan aktivitas jaringan jalan.
Namun, CSIS menekankan bahwa temuan citra satelit tersebut belum dapat memastikan klaim bahwa Iran telah memindahkan sentrifus atau komponen sentrifus ke dalam Pickaxe Mountain. Analisis itu juga menyebut aktivitas yang terlihat lebih konsisten dengan perkembangan konstruksi fasilitas bawah tanah, meski fungsi akhir kompleks tersebut belum dapat dipastikan berdasarkan bukti terbuka.
Pickaxe Mountain menjadi salah satu tantangan dalam opsi militer Washington karena fasilitas tersebut dibangun jauh di bawah permukaan dan berada di kawasan batuan granit. CSIS menilai serangan terhadap kompleks itu mungkin dapat merusak atau mengganggu fasilitas, tetapi menghancurkannya secara menyeluruh akan menjadi persoalan yang jauh lebih sulit.
Presiden Trump pada awal September kembali memperingatkan Iran terkait aktivitas di Pickaxe Mountain. Reuters melaporkan Trump mengatakan AS dapat menyerang lokasi tersebut apabila Iran melanjutkan aktivitas yang dinilai mengancam kepentingan Washington.
Di tengah tekanan tersebut, persoalan nuklir Iran tetap memiliki jalur diplomasi. Salah satu isu utama yang perlu diselesaikan adalah masa depan program pengayaan uranium Iran serta mekanisme untuk memastikan kepatuhan dan pengawasan terhadap kegiatan nuklirnya.
Iran juga masih berselisih dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengenai kewajiban pengawasan dan kepatuhan terhadap komitmen nonproliferasi. Pada September 2026, Iran mengkritik langkah Dewan Gubernur IAEA yang membawa persoalan kepatuhan nuklir Iran ke Dewan Keamanan PBB.
Dengan tawaran pasokan bahan bakar dari luar negeri, Washington pada dasarnya membuka opsi agar Iran tetap memperoleh bahan bakar untuk kebutuhan nuklir sipil tanpa mempertahankan kemampuan pengayaan uranium di dalam negeri. Namun, realisasi tawaran tersebut masih bergantung pada kesepakatan mengenai penghentian pengayaan, pengawasan internasional, serta penyelesaian sejumlah persoalan lain dalam program nuklir Iran.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi






