Beranda / World / Green Party Inggris Klasifikasikan Zionisme sebagai Rasisme, Israel Mengecam

Green Party Inggris Klasifikasikan Zionisme sebagai Rasisme, Israel Mengecam

JAKARTA, 6 Oktober 2026 — Green Party of England and Wales mengesahkan mosi yang mengklasifikasikan Zionisme sebagai bentuk rasisme dalam konferensi tahunan partai di Brighton, Inggris, Minggu (4/10/2026). Keputusan tersebut memicu kecaman dari sejumlah kelompok Yahudi di Inggris dan pemerintah Israel.

Mosi bertajuk “Zionism is Racism” itu disahkan dengan 1.022 suara berbanding 813 suara. Dalam dokumen tersebut, Zionisme disebut sebagai “proyek politik etnonasionalis” yang menurut partai memberikan keistimewaan kepada satu kelompok etnis dengan mengorbankan kelompok lainnya.

Mosi itu juga menyerukan agar pemerintah Inggris menghentikan perdagangan senjata dengan Israel serta mendukung hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri. Green Party turut mendukung pembentukan satu negara demokratis di seluruh wilayah Palestina bersejarah dengan hak yang setara bagi semua.

Partai tersebut menegaskan bahwa kebijakan itu ditujukan pada Zionisme sebagai ideologi politik sebagaimana didefinisikan dalam mosi, bukan pada latar belakang agama atau etnis orang yang mengidentifikasi diri sebagai Zionis.

Pemungutan suara tersebut berlangsung di tengah perbedaan pandangan di internal partai. Empat dari lima anggota parlemen Green Party mengecam mosi tersebut. Sejumlah tokoh senior juga memperingatkan bahwa keputusan tersebut dapat memperlebar perpecahan dan mengasingkan sebagian anggota serta komunitas Yahudi.

Pemimpin Green Party Zack Polanski tidak ikut dalam pemungutan suara. Saat voting berlangsung, Polanski berada di luar konferensi untuk berkampanye dalam pemilu sela di London. Polanski, yang merupakan seorang Yahudi, sebelumnya menyatakan pandangannya terkait mosi tersebut dengan merujuk pada definisi Zionisme yang digunakan dalam dokumen partai.

Kelompok Movement for Progressive Judaism mengecam keputusan tersebut. Kelompok itu menilai mosi Green Party telah menjadikan antisemitisme sebagai kebijakan partai dan berpotensi mendiskriminasi warga Yahudi yang mendukung Zionisme.

Di sisi lain, kelompok Jewish Greens di dalam Green Party tidak mengambil posisi resmi yang seragam terhadap mosi tersebut. Perdebatan mengenai hubungan antara Zionisme, identitas Yahudi, dan hak penentuan nasib sendiri menjadi salah satu persoalan yang muncul setelah keputusan tersebut.

Pemerintah Israel juga mengecam keputusan Green Party. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar memutuskan melarang Polanski memasuki Israel sebagai respons atas kebijakan yang disahkan partainya.

Kementerian Luar Negeri Israel menyebut mosi tersebut sebagai teks antisemit berdasarkan definisi International Holocaust Remembrance Alliance (IHRA). Pemerintah Israel menilai keputusan tersebut menyangkal hak bangsa Yahudi untuk menentukan nasib sendiri.

Israel juga menuduh Green Party memberikan legitimasi terhadap perjuangan bersenjata dan mengadopsi gagasan yang menurut pemerintah Israel sejalan dengan Hamas. Tuduhan tersebut dibantah oleh Polanski dan sejumlah tokoh Green Party.

Wakil Ketua Green Party Mothin Ali, yang mendukung mosi tersebut, mengatakan tingginya jumlah korban Palestina dalam perang Israel-Hamas menjadi salah satu konteks yang melatarbelakangi keputusan partai.

Ali mengatakan kepada Sky News bahwa mosi tersebut mendefinisikan Zionisme sebagai gerakan etnonasionalis dan mengaitkannya dengan pembersihan etnis serta genosida.

Pernyataan tersebut merujuk pada tuduhan terhadap tindakan Israel di Gaza dan wilayah Palestina. Israel menolak tuduhan genosida maupun pembersihan etnis tersebut.

Perdebatan mengenai keputusan Green Party juga mendapat perhatian dari organisasi politik hijau di Eropa. European Green Party menyatakan mosi tersebut bertentangan dengan kebijakan organisasi mereka dan mengkritik keputusan partai Inggris tersebut.

Sementara itu, Green Party tetap menyatakan penolakannya terhadap kebijakan pemerintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta dukungannya terhadap hak-hak rakyat Palestina. Partai tersebut juga menegaskan bahwa dukungan terhadap hak Palestina tidak bertentangan dengan dukungan terhadap hak warga Yahudi.

Akbari Danico – Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *