Kelurahan Taman Sari, Jakarta Barat, menyiapkan Festival Budaya Taman Sari sebagai bagian dari persiapan menghadapi penilaian tim juri Lomba Benyamin S Award 2026. Taman Sari merupakan salah satu dari 10 kelurahan yang masuk babak final kompetisi tersebut.
Festival akan digelar di Jalan Mangga Besar dengan mengangkat sejarah dan keberagaman masyarakat Taman Sari. Lurah Taman Sari Malik Abdul Raharusun mengatakan konsep tersebut menjadi pembeda festival yang disiapkan pihaknya.
Menurut Malik, Taman Sari memiliki sejarah panjang sebagai kawasan permukiman sejak masa Hindia Belanda. Pada periode tersebut, kawasan Jakarta Barat berkembang menjadi tempat tinggal berbagai kelompok masyarakat, mulai dari Eropa, Tionghoa, Arab, Jawa, Melayu, India, hingga kelompok etnis lainnya.
Keberagaman tersebut kemudian menjadi bagian utama dalam konsep Festival Budaya Taman Sari. Kegiatan disiapkan bersama jajaran Kecamatan Taman Sari dan masyarakat setempat dengan dukungan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat.
Rangkaian festival akan menampilkan karnaval budaya yang merepresentasikan sejumlah kelompok etnis, antara lain Tionghoa, Arab, Betawi, Melayu, Jawa, Sunda, India, dan Eropa.
Nuansa sejarah juga akan ditampilkan melalui pameran foto kawasan Taman Sari dan sekitarnya. Selain itu, warga akan menghadirkan bazar kuliner dari berbagai komunitas yang tinggal di kawasan tersebut.
Malik mengatakan festival tersebut akan melibatkan berbagai unsur masyarakat untuk menggambarkan keberagaman dan perjalanan sejarah Taman Sari.
Di sisi lain, masuknya Taman Sari sebagai salah satu finalis Benyamin S Award dinilai warga menjadi momentum untuk melanjutkan sejumlah perubahan di lingkungan mereka.
Nurhayati, warga RT 10/02 Kelurahan Taman Sari, mengatakan kondisi keamanan lingkungan semakin baik dalam beberapa tahun terakhir. Kebersihan kawasan juga dinilai meningkat seiring dengan penerapan pemilahan sampah dari sumber.
Pengelolaan sampah melalui bank sampah di tingkat RW turut memberikan manfaat ekonomi bagi warga. Sampah yang dikumpulkan dapat ditukar atau dijual sehingga memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.
Menurut Nurhayati, festival dan kompetisi tersebut menjadi kesempatan bagi warga untuk terus memperbaiki lingkungan sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat dalam menjaga kawasan Taman Sari.
Alexander Jason – Redaksi






