Gelandang Tottenham Hotspur, Xavi Simons, mengikuti kursus bisnis daring yang diselenggarakan Harvard untuk mengembangkan kemampuan di luar sepak bola profesional. Pemain asal Belanda berusia 23 tahun itu memanfaatkan waktu pemulihan cedera anterior cruciate ligament (ACL) pada lutut kanannya untuk memperdalam pengetahuan bisnis dan kewirausahaan.
Cedera yang dialami Simons pada April lalu membuatnya absen dalam pertandingan-pertandingan terakhir Tottenham pada musim sebelumnya. Ia juga harus melewatkan Piala Dunia 2026 dan, berdasarkan perkiraan yang dilaporkan, belum diharapkan kembali bermain sebelum Februari mendatang.
Selama menjalani rehabilitasi, Simons memilih mengisi waktunya dengan mengikuti program pendidikan yang dirancang khusus bagi atlet profesional. Kursus tersebut membahas keterampilan bisnis dan kewirausahaan melalui studi kasus praktis serta materi manajemen, dengan format daring yang memungkinkan peserta belajar tanpa harus mengikuti perkuliahan secara langsung di kampus.
Program ini bertujuan membekali atlet dengan pengetahuan untuk menghadapi tantangan di luar lapangan. Materinya mencakup pengelolaan citra pribadi selama berkarier, perencanaan keuangan, hingga cara mengelola dan menginvestasikan pendapatan setelah masa bermain profesional berakhir.
Bagi Simons, topik mengenai citra pribadi memiliki kaitan erat dengan perjalanan kariernya. Namanya sudah dikenal sejak masih kecil ketika bermain di akademi Barcelona, sebelum pindah ke Paris Saint-Germain pada usia 16 tahun dengan status bebas transfer. Meski perjalanan kariernya belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi besar yang menyertainya sejak muda, Simons kini telah menjadi pemain Premier League dengan identitas dan gaya selebrasinya sendiri.
Sepak bola juga bukan satu-satunya bidang yang menarik perhatian Simons. Ia diketahui memiliki minat terhadap musik, fesyen, dan anime, termasuk Naruto. Ketertarikan di luar lapangan tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan seorang pemain profesional dapat mencakup berbagai aktivitas di luar tuntutan pertandingan dan latihan.
Simons bukan pesepak bola pertama yang mengambil pendidikan bisnis di Harvard. Eduardo Camavinga sebelumnya juga mengikuti program di Harvard Business School saat tidak masuk dalam skuad Prancis untuk Piala Dunia. Sementara itu, mantan bek Italia Giorgio Chiellini memiliki gelar di bidang administrasi bisnis yang mendukung kiprahnya dalam manajemen sepak bola setelah karier bermainnya.
Pada usia 23 tahun, Simons mulai memperluas bekalnya untuk menghadapi tantangan profesional di masa depan. Meski belum ada jaminan ia akan menyelesaikan seluruh program tersebut, langkah ini menunjukkan bahwa persiapan untuk kehidupan setelah sepak bola tidak harus menunggu hingga seorang pemain mendekati masa pensiun.
Akbari Danico – Redaksi






