Presiden China Xi Jinping bertemu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Gedung Putih, Washington, Kamis (24/9/2026), dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Xi ke AS. Pertemuan tersebut membahas hubungan ekonomi dan perdagangan, kecerdasan buatan (AI), keamanan, Taiwan, serta sejumlah isu internasional.
Dalam pertemuan tersebut, AS dan China menyepakati sejumlah hasil kerja sama ekonomi dan perdagangan. Kedua negara memperpanjang hasil konsultasi dagang sebelumnya hingga 10 Januari 2027 untuk memberikan waktu tambahan bagi pembahasan ekonomi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan perpanjangan tersebut merupakan kelanjutan dari kesepakatan perdagangan yang sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 10 November 2026.
Gedung Putih menyebut kedua negara juga mengoperasionalkan Board of Trade dan Board of Investment yang sebelumnya dibentuk pada pertemuan kedua kepala negara di Beijing pada Mei 2026. Melalui Board of Trade, kedua pihak mencapai konsensus mengenai rekomendasi perlakuan tarif yang lebih menguntungkan untuk barang non-sensitif senilai sekitar US$30 miliar secara timbal balik.
Selain itu, China dan AS sepakat membentuk mekanisme dialog mengenai AI untuk membahas risiko dan manfaat teknologi tersebut. Kedua negara juga akan membangun kanal komunikasi bilateral untuk menangani insiden yang berkaitan dengan AI.
Xi mengatakan hubungan ekonomi dan perdagangan yang stabil membutuhkan perluasan bidang kerja sama sekaligus pengurangan persoalan yang masih diperdebatkan. Menurut dia, kedua negara perlu menjaga komunikasi dan menjalankan kesepakatan yang telah dicapai.
Di bidang teknologi, Xi mengatakan China dan AS memiliki alasan lebih banyak untuk bekerja sama meskipun keduanya juga bersaing dalam pengembangan AI. Ia mendorong kedua negara melanjutkan dialog mengenai risiko dan manfaat AI serta mencegah penyalahgunaan teknologi tersebut.
Isu Taiwan turut menjadi bagian pembicaraan. Xi menyampaikan harapan agar AS mempertahankan posisi menentang kemerdekaan Taiwan dan menangani persoalan Taiwan secara hati-hati. Menurut Xi, pendekatan tersebut diperlukan untuk mendukung hubungan strategis kedua negara.
Kedua pemimpin juga bertukar pandangan mengenai sejumlah persoalan internasional dan regional, termasuk situasi Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, serta Semenanjung Korea.
Meski menghasilkan sejumlah kesepakatan, pertemuan tersebut belum menyelesaikan seluruh persoalan antara Washington dan Beijing. Reuters melaporkan tidak terdapat terobosan besar pada sejumlah isu yang masih menjadi perselisihan, termasuk perdagangan, AI, Taiwan, dan persoalan geopolitik lainnya.
Pertemuan Xi dan Trump menjadi bagian dari upaya kedua negara menjaga stabilitas hubungan sekaligus mengelola persaingan di bidang perdagangan, teknologi, dan keamanan. Perpanjangan gencatan senjata perdagangan hingga Januari 2027 memberikan waktu tambahan bagi kedua pihak untuk melanjutkan negosiasi mengenai persoalan yang belum terselesaikan.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi






