Iran menawarkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah persyaratan. Proposal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui mediator Qatar dalam rangkaian diplomasi di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Araghchi mengatakan proposal tersebut mengacu pada kerangka nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang sebelumnya dibahas Iran dan AS pada Juni. Menurut dia, sejumlah langkah yang diminta dari Washington bukan merupakan persyaratan baru, melainkan bagian dari kesepahaman yang telah dibicarakan sebelumnya.
Dalam proposal tersebut, Iran meminta AS mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran, menghapus sanksi terhadap penjualan minyak, serta mengambil langkah terkait penghentian permusuhan di kawasan. Iran juga meminta pelepasan asetnya yang dibekukan sebagai bagian dari rencana tersebut.
Jika AS menerima proposal, tahapan awal pelaksanaan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima hari. Setelah itu, Iran menyatakan Selat Hormuz dapat dibuka kembali pada hari keenam, sementara pembicaraan mengenai kesepakatan lanjutan dimulai pada hari ketujuh.
“Jika persyaratan yang diperlukan terpenuhi, selat dapat dibuka kembali dan lalu lintas maritim normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari,” kata Araghchi kepada wartawan di New York, Jumat (25/9/2026).
Proposal tersebut ditempatkan dalam kerangka upaya mengakhiri konflik antara Iran dan AS sekaligus membuka kembali perundingan mengenai program nuklir Iran. Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama karena merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.
Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan, arus minyak melalui Selat Hormuz pada 2024 hingga kuartal I 2025 mencakup lebih dari seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut dan sekitar seperlima konsumsi minyak serta produk minyak global. Sekitar seperlima perdagangan gas alam cair dunia juga melewati jalur tersebut.
Namun, proposal tersebut belum menghasilkan kesepakatan antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (26/9/2026) mengatakan telah menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri permusuhan dalam waktu tujuh hari.
“Saya menolak proposal mereka,” kata Trump kepada wartawan di Washington, Sabtu.
Meski demikian, Araghchi pada Minggu (27/9/2026) mengatakan Iran masih menunggu posisi resmi AS yang disampaikan melalui mediator. Ia menyebut Teheran telah mengetahui reaksi awal Trump, tetapi belum menerima jawaban final Washington melalui pihak yang menjadi perantara.
Araghchi menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz tetap bergantung pada pemenuhan persyaratan yang diajukan Iran. Dengan demikian, tenggat tujuh hari yang ditawarkan Teheran belum mulai dihitung karena rencana tersebut baru berlaku apabila AS menerima proposal.
Perkembangan tersebut menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik penting dalam diplomasi Iran-AS sekaligus isu strategis bagi pasar energi global. Pembukaan jalur tersebut masih bergantung pada perkembangan negosiasi dan keputusan kedua pihak.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi






