Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan kemungkinan penutupan PT Industri Telekomunikasi Indonesia atau PT INTI yang berbasis di Bandung.
Pernyataan itu disampaikan Dony saat menghadiri Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Sabtu (23/5). Ia menilai sejumlah BUMN menghadapi tekanan serius karena selama ini dikelola secara terpisah tanpa sistem yang terintegrasi.
“Kalau di Bandung itu ada PT INTI yang sangat terkenal, sekarang menghadapi persoalan, mungkin akan kita tutup juga,” ujar Dony.
Ia menilai pola pengelolaan lama membuat BUMN sehat tidak memiliki ruang untuk menopang perusahaan negara yang sedang mengalami tekanan bisnis. Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu penyebab sejumlah BUMN besar kehilangan daya saing.
Menurutnya, model pengelolaan BUMN sebelumnya membuat perusahaan-perusahaan negara berjalan sendiri-sendiri sehingga BUMN yang sehat tidak dapat membantu perusahaan lain yang sedang mengalami masalah.
Sebagai informasi, PT INTI (Persero) atau PT Industri Telekomunikasi Indonesia merupakan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang produksi peralatan telekomunikasi dan teknologi. Perusahaan pelat merah ini didirikan pada 30 Desember 1974 dan pernah menjadi pemain utama infrastruktur telekomunikasi nasional.
Pada periode 1985 hingga 1998, PT INTI bahkan ditunjuk pemerintah sebagai pemasok tunggal Sentral Telepon Digital Indonesia (STDI) dan sempat menguasai sekitar 60 persen pasar infrastruktur telekomunikasi nasional. Namun, perubahan industri dan ketatnya persaingan bisnis membuat kinerja perusahaan terus mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir.
Selain PT INTI, Dony juga menyinggung beberapa BUMN lain yang pernah mengalami tekanan bisnis, seperti PT Jakarta Lloyd (Persero) dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.
Ia menambahkan, sebelum adanya Danantara, keuntungan BUMN besar seperti Bank Rakyat Indonesia dan Bank Mandiri tidak bisa dimanfaatkan untuk membantu BUMN lain yang mengalami kesulitan.
Oleh Karena itu, pemerintah kini mengonsolidasikan BUMN melalui Danantara yang disebut sebagai sovereign wealth fund berbasis perusahaan negara atau state-owned enterprise based sovereign wealth fund.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi





