Beranda / World / AHY Pelajari Teknologi Veytaux untuk Pengembangan Pumped-Storage Indonesia

AHY Pelajari Teknologi Veytaux untuk Pengembangan Pumped-Storage Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendorong penguatan kerja sama dan pertukaran pengetahuan dalam pengembangan infrastruktur energi, khususnya teknologi pumped-storage, setelah mengunjungi Veytaux Pumped-Storage Power Plant di Veytaux, Swiss.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari agenda kerja AHY di Swiss untuk melihat secara langsung teknologi, tata kelola, dan operasional fasilitas pembangkit listrik tenaga air pompa yang dikelola Forces Motrices Hongrin-Léman (FMHL) dan dioperasikan oleh HYDRO Exploitation SA.

Veytaux menjadi salah satu fasilitas yang dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam mengembangkan sistem penyimpanan energi berbasis air. Fasilitas tersebut memanfaatkan perbedaan elevasi sekitar 880 meter antara Danau Jenewa dan Waduk Hongrin.

Ketika pasokan listrik berlebih atau permintaan sedang rendah, air dari Danau Jenewa dipompa ke Waduk Hongrin untuk disimpan. Saat kebutuhan listrik meningkat, air dialirkan kembali melalui turbin untuk menghasilkan listrik. Mekanisme tersebut memungkinkan pembangkit berfungsi sebagai sistem penyimpanan sekaligus membantu menjaga fleksibilitas jaringan listrik.

Setelah proyek ekspansi Veytaux II atau FMHL+ selesai, kapasitas fasilitas tersebut meningkat dari 240 MW menjadi 480 MW. Dari kapasitas tersebut, 420 MW digunakan untuk operasi dan 60 MW disiapkan sebagai cadangan. Dua unit tambahan masing-masing memiliki kapasitas 120 MW.

Pengembangan Veytaux II juga melibatkan pengujian teknologi melalui model fisik berskala 1:30 di Laboratorium Konstruksi Hidraulik EPFL. Pengujian tersebut digunakan untuk mempelajari karakteristik hidraulik fasilitas sebelum pengembangan pembangkit dilakukan.

Pengalaman tersebut dinilai relevan dengan pengembangan infrastruktur energi Indonesia, khususnya proyek Upper Cisokan Pumped Storage di Jawa Barat. Proyek yang dikembangkan PLN tersebut memiliki kapasitas 1.040 MW dan dirancang untuk memasok listrik pada periode beban puncak sekaligus memperkuat keandalan sistem kelistrikan Jawa-Bali. PLN menyebut Upper Cisokan sebagai proyek pumped-storage pertama Indonesia.

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLN juga memasukkan pengembangan sekitar 4,3 GW pembangkit pumped-storage. Secara keseluruhan, sistem penyimpanan energi yang direncanakan dalam RUPTL mencapai 10,3 GW, termasuk baterai dan pumped-storage.

AHY mengatakan pengalaman pengelolaan fasilitas seperti Veytaux penting dipelajari Indonesia, terutama dalam memastikan kesiapan operasional, integrasi pembangkit dengan jaringan, serta pengelolaan aset dan proyek dalam jangka panjang.

“Melalui pertukaran pengetahuan dengan pengelola Veytaux, kita ingin memastikan kesiapan operasional, integrasi jaringan, serta pengelolaan proyek pumped-storage di Tanah Air dapat berjalan optimal,” kata AHY.

Menurut AHY, kerja sama dan pertukaran pengetahuan dengan Swiss diharapkan tidak hanya memperkuat pengembangan infrastruktur energi, tetapi juga mendukung proses transisi energi Indonesia.

Pengembangan sistem penyimpanan energi menjadi semakin penting seiring bertambahnya pembangkit energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin yang produksinya bergantung pada kondisi alam. Sistem pumped-storage dapat membantu menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik ketika produksi energi terbarukan mengalami perubahan.

Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap pengalaman dan teknologi yang telah diterapkan di Swiss dapat menjadi referensi dalam pengembangan infrastruktur energi Indonesia yang lebih andal dan fleksibel.

Dalam kunjungan tersebut, AHY didampingi Duta Besar RI untuk Swiss merangkap Kepangeranan Liechtenstein I Gede Ngurah Swajaya, Deputi Infrastruktur Dasar Nazib Faizal, Staf Khusus Menko Infra Herzaky Mahendra Putra, Staf Khusus Menteri PU Ahmad Khoirul Umam, serta Tenaga Ahli Menko Infra Mira Permatasari dan Diska Putri Pamungkas.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *