Beranda / Sport / Bola / Leicester City Masuk Bursa Penjualan, Dibanderol Rp 4,3 Triliun

Leicester City Masuk Bursa Penjualan, Dibanderol Rp 4,3 Triliun

Leicester City dikabarkan masuk bursa penjualan setelah pemiliknya, King Power Group, berencana melepas klub tersebut. Grup asal Thailand itu disebut mematok harga lebih dari 200 juta pound sterling atau sekitar Rp 4,3 triliun.

Dilansir dari sejumlah laporan, proses penjualan Leicester City dibantu bank investasi asal Amerika Serikat, Citigroup. Proses tersebut menggunakan dokumen penjualan setebal delapan halaman dengan kode nama Project Lineup.

Paket penjualan mencakup Leicester City, tim putri, sejumlah aset utama klub, serta klub saudara di Belgia, OH Leuven. Beberapa aset yang ditawarkan di antaranya Stadion King Power yang berkapasitas sekitar 32.000 penonton dan fasilitas latihan Seagrave yang mulai digunakan pada 2020.

Dokumen tersebut turut menonjolkan rekam jejak Leicester sebagai salah satu klub dengan kisah sukses paling mengejutkan dalam sejarah sepak bola Inggris.

Leicester menjadi juara Premier League pada musim 2015-2016. Ketika itu, peluang mereka untuk menjadi juara diperkirakan mencapai 5.000 banding 1.

Kesuksesan tersebut kemudian dilengkapi dengan trofi Piala FA pada 2021 serta sejumlah keberhasilan promosi ke kasta tertinggi sepak bola Inggris.

Namun, kondisi Leicester saat ini berbeda jauh dibandingkan era kejayaan tersebut. Klub berjuluk The Foxes itu kini berada di League One, kasta ketiga sepak bola Inggris, setelah terdegradasi dari Championship pada musim lalu.

Leicester tercatat mengalami dua kali degradasi dari Premier League dalam kurun waktu tiga tahun. Musim 2026-2027 menjadi musim kedua sepanjang sejarah klub di League One.

Leicester mengawali perjalanan mereka di League One dengan menghadapi Notts County pada Sabtu (15/8/2026). Di tengah situasi tersebut, Citigroup memproyeksikan pendapatan Leicester dapat mencapai lebih dari 97 juta pound sterling pada tahun finansial 2026.

Leicester City sendiri belum memberikan komentar terkait dokumen penjualan yang beredar.

Selain persoalan performa, kondisi finansial menjadi tantangan lain bagi calon pemilik baru. Laporan keuangan 2025 menunjukkan Leicester memiliki pinjaman bank sebesar 103,6 juta pound sterling.

Klub juga mencatat akumulasi kerugian lebih dari 180 juta pound sterling dalam periode naik-turun antara Premier League dan Championship.

Meski demikian, Leicester masih memiliki potensi pemasukan dari pengembangan dan penjualan pemain. Salah satunya berasal dari Jeremy Monga yang dilepas ke Manchester City dengan nilai transfer 10 juta pound sterling pada Juli 2026.

Jika penjualan terealisasi, perubahan kepemilikan tersebut akan mengakhiri 16 tahun era King Power di Leicester City. Perubahan itu menjadi babak baru bagi klub yang pernah mencatat salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Premier League.

Fito Wahyu Mahendra — Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *