Beranda / World / WHO Naikkan Status Risiko Wabah Ebola di DR Kongo Jadi Sangat Tinggi

WHO Naikkan Status Risiko Wabah Ebola di DR Kongo Jadi Sangat Tinggi

World Health Organization (WHO) resmi meningkatkan status risiko kesehatan masyarakat akibat wabah Ebola di Democratic Republic of the Congo (DR Kongo) dari “tinggi” menjadi “sangat tinggi” di tingkat nasional. Keputusan itu diambil menyusul lonjakan kasus, tingginya mobilitas penduduk, serta meluasnya penyebaran lintas negara di kawasan Afrika Tengah. 

Dalam laporan situasi terbaru yang dirilis Jumat (22/5), Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut risiko penyebaran Ebola di kawasan Afrika kini berada pada level “tinggi”, sementara ancaman secara global masih dikategorikan “rendah”. WHO juga mengingatkan bahwa wabah ini terjadi di wilayah konflik yang memiliki sistem kesehatan terbatas sehingga memperumit proses penanganan.

Wabah tersebut dipicu oleh virus Ebola varian Bundibugyo, jenis langka yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi khusus yang disetujui. WHO menyebut tingkat fatalitas virus ini pada wabah sebelumnya berkisar antara 30 hingga 50 persen. 

Data terbaru menunjukkan DR Kongo telah mencatat hampir 750 kasus suspek dan 177 kematian suspek. Sementara itu, terdapat 82 kasus yang telah dikonfirmasi laboratorium dengan tujuh kematian terkonfirmasi. Penyebaran wabah kini terdeteksi di sejumlah wilayah Ituri dan mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap penularan lintas batas negara. 

Situasi di Uganda juga terus dipantau setelah negara tersebut melaporkan lima kasus Ebola Bundibugyo, termasuk satu korban meninggal dunia. Tiga kasus terbaru diketahui melibatkan seorang sopir pengangkut pasien, tenaga kesehatan, dan seorang perempuan asal Kongo yang sempat melakukan perjalanan udara sebelum akhirnya dinyatakan positif Ebola. 

Di tengah krisis tersebut, para peneliti dari University of Oxford bersama Oxford Vaccine Group dan Serum Institute of India tengah mempercepat pengembangan kandidat vaksin ChAdOx1 BDBV untuk melawan virus Bundibugyo. Vaksin tersebut ditargetkan dapat memasuki tahap uji klinis dalam dua hingga tiga bulan mendatang. 

Meski demikian, WHO mengingatkan bahwa belum ada kepastian vaksin tersebut akan efektif. Proses pengujian pada hewan dan manusia masih diperlukan untuk memastikan keamanan serta tingkat perlindungannya. Organisasi kesehatan global itu memperkirakan pengembangan vaksin darurat masih membutuhkan waktu enam hingga sembilan bulan sebelum siap digunakan lebih luas. 

Selain tantangan medis, respons wabah juga dihambat situasi keamanan yang tidak stabil. Sejumlah fasilitas kesehatan dilaporkan kewalahan menangani pasien, sementara konflik bersenjata dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap tenaga medis memperburuk kondisi di lapangan. Bahkan, sebuah pusat kesehatan di wilayah timur DR Kongo sempat dibakar keluarga pasien setelah petugas menolak menyerahkan jenazah korban Ebola karena risiko penularan. 

WHO sebelumnya telah menetapkan wabah Ebola Bundibugyo di DR Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional sejak 17 Mei 2026. 

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *