Beranda / Megapolitan / Pramono: Kualitas Udara Jakarta Memburuk dalam 2–3 Hari ke Depan

Pramono: Kualitas Udara Jakarta Memburuk dalam 2–3 Hari ke Depan

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengingatkan potensi memburuknya kualitas udara di Ibu Kota dalam dua hingga tiga hari ke depan. Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah tingginya tingkat polusi udara yang terpantau pada Jumat (16/10/2026).

Berdasarkan data IQAir pada pukul 06.45 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 186. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 107 mikrogram per meter kubik.

Data itu juga menempatkan Jakarta pada urutan ketiga kota besar paling berpolusi di dunia pada Jumat pagi, menurut laporan ANTARA yang mengutip IQAir.

PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan polusi udara perlu menjadi perhatian, terutama bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan.

Di tengah kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan belum menemukan indikasi bahwa kabut yang terlihat di langit Jakarta dipengaruhi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Sumatera maupun Kalimantan.

Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, mengatakan data pemantauan kualitas udara dan pemodelan arah angin hingga 14 Oktober 2026 belum menunjukkan adanya potensi asap karhutla terbawa ke Jakarta.

Menurut Yogi, pemantauan PM2.5 pada 1–14 Oktober menunjukkan konsentrasi berkisar 35–75 mikrogram per meter kubik. Hasil pemodelan arah angin juga menunjukkan kecil kemungkinan polusi di Jakarta pada 14–15 Oktober dipengaruhi karhutla di kedua wilayah tersebut.

Untuk mengurangi paparan polusi, masyarakat disarankan membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Warga yang harus beraktivitas di luar juga dapat menggunakan masker yang sesuai dan mengurangi masuknya udara luar yang tercemar ke dalam ruangan.

Pemantauan kualitas udara perlu terus dilakukan agar masyarakat memperoleh informasi terkini dan dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan.

Fito Wahyu Mahendra – Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *