Pemerintah mulai menguji skema ambulans udara untuk mempercepat evakuasi medis bagi masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Uji coba dilakukan melalui latihan evakuasi medis menggunakan helikopter di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Latihan tersebut digelar TNI Angkatan Udara (TNI AU) bersama sejumlah unsur pemerintah daerah pada 22-24 September 2026.
Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat menyebut latihan tersebut menguji rangkaian evakuasi mulai dari penjemputan korban di lokasi kejadian, pemindahan pasien, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan dengan tingkat pelayanan lebih tinggi di Bandar Lampung.
Dalam latihan tersebut, TNI AU mengerahkan empat armada udara, yakni satu pesawat Cassa C-212i, satu helikopter H-225 Caracal, dan dua helikopter EC-120B Colibri. Selain Bandara M. Taufik Kiemas, kesiapan helipad RSUD KH. M. Thohir Krui serta sejumlah titik pendaratan alternatif juga diuji.
Program ambulans udara ditujukan untuk mengatasi kendala akses kesehatan di daerah yang membutuhkan waktu perjalanan darat berjam-jam menuju rumah sakit. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut layanan tersebut disiapkan untuk wilayah yang membutuhkan waktu sekitar lima hingga sembilan jam perjalanan darat menuju fasilitas kesehatan.
“Karena dalam kondisi darurat, waktu sangat berarti. Insyaallah negara akan terus hadir, hingga ke pelosok negeri. Memperpendek jarak, mempercepat pertolongan, dan pada akhirnya menyelamatkan nyawa,” ujar Teddy dalam keterangan yang dikutip ANTARA.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengatakan ambulans udara akan menggunakan helikopter dan pesawat kecil yang dapat mendarat di lokasi dengan keterbatasan akses.
“Untuk itu, kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan rumput, lapangan pasir, dan bisa mendarat di pinggir sungai supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit,” kata Prabowo dalam penyampaian keterangan pemerintah terkait RAPBN 2027 pada 14 Agustus 2026, dikutip ANTARA.
Prabowo juga menyoroti kondisi masyarakat yang harus menempuh perjalanan panjang untuk memperoleh pertolongan medis, termasuk perempuan yang membutuhkan layanan kesehatan saat persalinan.
“Saya mendapat laporan banyak ibu-ibu yang meninggal karena harus menempuh jalan tujuh jam sampai sembilan jam pada saat melahirkan,” ujarnya.
Selain ambulans udara, pemerintah juga menyiapkan tim dokter terbang untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan penanganan medis di wilayah sulit akses. Program tersebut menjadi bagian dari rencana pemerintah memperluas jangkauan layanan kesehatan di daerah.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Pesisir Barat Tedi Zadmiko mengatakan latihan evakuasi medis udara penting untuk menguji kesiapan tenaga medis, nonmedis, hingga unsur pendukung di daerah.
“Kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Bapak Presiden dan kepada TNI Angkatan Udara sebagai pelaksana kegiatan ini. Kita menyadari bahwa karakteristik wilayah kita merupakan wilayah yang rawan bencana, sehingga dengan adanya kegiatan ini secara tidak langsung melatih tenaga medis, nonmedis maupun unsur pendukung, mulai dari puskesmas, BPBD, rumah sakit hingga ambulans,” ujar Tedi dalam keterangan Pemkab Pesisir Barat.
Hasil latihan tersebut selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kesiapan evakuasi medis melalui jalur udara, termasuk kesiapan titik pendaratan dan koordinasi antarlembaga.
Fito Wahyu Mahendra – Redaksi






